Kamis, 22 Desember 2011

Purwokerto,aku jatuh cinta

2 hari sebelum ospek, gue datang ke Faperta UNSOED dengan naik becak. Dan ada romantisme tersendiri antara gue dan tukang becak, mungkin bapak becak gak ngerasain pak, tapi saya bener-bener ngerasa pak. Lalu setelah melewati romantisme-romantisme yang terjadi antara gue dan bapak tukang becak guepun sampe ke Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman.

Gue masuk kedalem dengan muka bingung dan sambil planga-plongo dan duduk di depan bangunan yang bertuliskan "AUDITORIUM", bangunan ini udah agak tua dan bercat warna putih, bangunan dengan banyak pilar ini agak lusuh dan gak keurus, yang setelah gue pikir-pikir lagi kalau aja di kasih kubah diatasnya pasti bangunan tua ini bisa disebut Masjid,  bahkan Masjid aja lebih rapih dan ke urus di banding bangunan auditorium Unsoed ini, benar-benar suram..

Di situ guepun hanya bisa celingak-celinguk, karena seperti biasa gue datang kepagian. Jadilah gue ngeliatin orang-orang yang lewat, ngeliatin burung-burung yang berterbangan, Nontonin kucing lagi kawin, yang ngebuat gue agak horny. Terus acarapun dimulai dan gue dipaksa baris per-jurusan dan gue si ikut aja buat baris di masing-masing jurusan dengan planga-plongo dan bingung, karena gue bahkan gak inget gue masuk Unsoed itu jurusan apa. Tapi ada pencerahan saat gue ketemu salah seorang temen gue. Itulah awal gue kenal sama temen-temen gue dan mulai memahami sifat mereka seperti apa. Terus gue sempet bete dan gak bisa mikir apa-apa saat pembagian kelompoknya dipanggil namanya satu-satu ,gile aja masa dari ribuan anak dan mau di panggilin satu-satu coba? kan bosen ya. Akhirnya karena kesialan (atau keberuntungan) gue masuk kelompok 31. Disini guepun mulai memahami lagi sifat masing-masing orang.

1 hari sebelum ospek, gue dateng kembali dengan becak. Dan lagi-lagi dengan kampretnya gue datengnya kepagian jadilah gue kembali planga-plongo dan celingak-celinguk lagi menunggu yang lain datang semacam kambing aja gue kala itu. Terus gak lama kemudian yang lainpun dateng dan gue pun mulai membuat ini itu, di saat semua anggota kelompok udah dateng, gue pun baru sadar ada wanita yang cukup cantik untuk ngebuat aku memperhatikannya terus. Yang mampu ngebuat gue setiap detiknya diwajibkan untuk melihatnya samapai ke detailnya, sampai gue melihat sebatang rumput kecil terselip diantara rambutnya dan ada sedikit noda tanah di baju biru langitnya. Guepun mulai semangat buat ngejokes hanya agar dia tersenyum dan sedikit saja melihat gue. Aku suka caranya tertawa dan tersenyum.

Saat ospek gue bingung ini cewek yang kemarin gue perhatiin kemana coba? apa mungkin kemarin dia salah masuk kelompok? kasian banget sih nih cewek cantik-cantik tapi agak bego,masa bisa salah kelompok. Tapi gue salah, ternyata dia masuk tatib, tatib adalah gerombolan orang dengan pakaian serba hitam dan suka teriak-teriak semacam preman.Ampe kadang gue mikir, ini Unsoed nyewa preman macem gini dimana pula. Dan saat itu gue sadar, gue salah dia gak bego. Salah satu ke-bego-annya hanya karena terlalu jujur sehingga dia masuk tatib. Aku suka keberaniannya buat jujur walau akhirnya menyusahkannya.

Ospek selama 3 hari benar-benar terasa sangat cepat. Setiap detiknya terasa beribu kali lebih cepat setiap gue dekat dengannya. Sampai gue berdoa semoga setiap ada dia didekat gue, gue berada sedetik saja dalam keabadian. Tapi itu gak mungkin ya?jadilah gue tetep ngejokes-ngejokes dan bener-bener seperti alien berkostum badut gue. Gue mempermalukan diri gue sendiri hanya demi ngeliat dirinya dan senyum malu-malunya.

Hari terakhir ospek, pada acara yang mungkin disebut siraman rohani tetapi tidak cukup untuk menyiram rohani gue, yang saat itu sangat serius memandanginya secara diam-diam. Tiba-tiba gue ngeliat dia terduduk lemah, dengan kepala tertunduk diantara kedua lututnya. Damn, ini adalah saat yang sangat tepat buat pedekate sama dia, saat dia sedang sakit (terimakasih Tuhan membuatnya kelelahan), mungkin kedengerannya agak parah. Tapi masa bodo lah yang penting karena dia sakit gue jadi bisa ngomong sama dia.

Guepun mulai memberikan perhatian, karena first sight adalah yang terpenting kan? Inilah untuk pertama kalinya gue merasa hanya berdua dengannya walaupun saat itu sedang sangat ramai. Selesai acara yang-mereka-sebut-siraman-rohani. Guepun berjalan kaki untuk kembali ke kosan gue yang dengan beruntungnya ada dirinya disana. Sedikit pembicaraan pun terjadi. Akhirnya gue sampai ke kosan gue yang jaraknya bisa aja ngebuat betis gue segede monas, gue segera sms teman gue untuk meminta nomor hape satu kelompok, dan begitulah cara gue mendapatkan nomor handphonenya dengan cara seorang pengecut.

Lalu sampai gue pun berhasil menjalin hubungan dengannya hubungan yang selalu gue sebut sebagai kekasih-bukan-mau-disebut-sahabat-sudah-lebih. Sampai gue bertanya padanya hubungan kita ini apa, apa pacarankah?temenan kah? sahabatankah? atau pacar yang bukan pacar, ingin disebut pacar tapi tidak pacaran, namun dia tidak menjawab dengan cara yang sangat sangat halus.

Dan akhirnya date pertama gue dengan Jasmine pun terjadi. Dan yang anehnya lagi gue sama dia jalan hanya dengan  menggunakan boxer, gue juga heran kenapa di date pertama ini gue hanya menggunakan boxer dan tidak berdandan serapih mungkin.Tapi ini memang aneh seminggu kemarin gue hanya temen satu kelompok dengan dia dan sibuk mengisi hari-hari gue dengan memperhatikan gesturenya. Hari ini gue duduk berdua hanya dengannya di mobil. Mungkin dunia terkadang bisa berlaku adil dimana sang pengagum bisa mendapatkan pujaan hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar